mercredi, novembre 16

Teori Penulisan Sejarah Struktural Braudel

Braudel merupakan sturukturalis historis, ia mengkritik penulisan sejarah yang hanya berhenti pada tataran courte durée yang mengacu pada l’événement (histoire événementielle) seperti sejarah politik  dan diplomasi negara. Kelemahan penulisan sejarah tradisional yaitu hanya melibatkan satu sudut pandang saja. Setelah courte durée, penulisan sejarah dapat dilakukan melalui menggunakan histoire conjonture (moyenne durée) di mana berfokus pada sitauasi ekonomi dan sosial yang dipengaruhi oleh keadaan mentalitas dan masyarakat. Tidak berhenti sampai di sana, Braudel menyatakan bahwa penulisan sejarah harus sampai pada tataran longue durée,  di mana terdapat conjucture dan structure yang menjadi penting sebagai unsur pembentuk sejarah menjadi suatu yang utuh. Penelitian sejarah harus dilakukan secara total, begitu kata Braudel. Jika dihubungkan dengan strukturalisme, Setelah courte durée  terletak pada tataran langue yang berpedoman pada l’événement, sedangkan structure et conjucture terletak pada tataran parole. (Braudel, 1985:44-61)

Braudel menganalogikan ciri sosial sebagai konsep penulisan sejarah seperti sebuah lautan. Pada tataran courte durée, dampak yang terjadi di masyarakat cenderung besar, sama seperti lautan yang bergelombang di bagian atas. Lalu, moyenne durée bergelombang namun tidak sebesar courte durée. Sementara itu, longue durée est toujours immobile, dalam tataran ini, peristiwa sejarah tidak nampak seperti courte durée karena terjadi sangat lamban namun memiliki pengaruh besar dalam penelitian sejarah. Mengutip Lucian Febvre dan March Bloch bahwa manusia adalah individu dengan struktur watak dengan perubahan paling sedikit atau cenderung stagnan (mentalité), maka dari itu penelitian sejarah sampai tahap longue durée  mutlak dilakukan melihat dampak sosial yang terjadi seperti pada pengandaian Braudel tersebut.

Dalam tataran courte durée durasi waktu penelitian sejarah berkisar antara 60-70 tahun, sama seperti umur manusia. Moyenne durée berkisar pada umur sosial antara 80-120 tahun, dan longue durée melihat umur geografis yang mungkin lebih dari 100 tahun. Sebagai contoh kasus, meneliti reformasi di Indonesia dari cara pandangang braudellien, dalam tataran courte durée peristiwa-peristiwa seperti Mei 1998 yang menewaskan mahasiswa, anarkisme yang dilakukan masyarakat pada etnis cina, atau tersingkapnya korupsi Soeharto adalah bagian dari gelombang besar sejarah reformasi, peristiwa ini berkaitan dengan politik, memiliki gaung yang besar dalam kehidupan sosial, dan tidak berumur lama. Ketika reformasi dibawa dalam moyenne durée, penelitian sampai kepada hal-hal menyangkut kehidupan sosial masyarakat yang berdampak tidak sebesar kerusuhan namun tetap berpengaruh, hal seperti naiknya dollar terhadap rupiah, adanya inflasi yang berujung pada krisis moneter terparah dalam sejarah Indonesia, hal ini menyebabkan harga barang-barang menjadi sangat mahal, dan menyulitkan kaum menengah kebawah. Reformasi ternyata tidak hanya sekedar kerusuhan Mei 1998, turunnya Soeharto, atau adanya krisis moneter. Berlanjut ke longue durée, reformasi terjadi karena adanya faktor mentalitas masyarakat yang berubah sedikit demi sedikit hingga tidak disadari, selain itu perubahan nilai dollar terhadap rupiah juga terjadi secara perlahan. Dengan meneliti hingga pada tahap longue durée, maka kita akan mendapatkan l’histoire totale seperti yang dimaksud oleh Braudel.

(sumber: Braudel, Fernand. 1985. Écrits sur l’histoire. Paris: Éditions Flammarion hal. 44-61)

Enregistrer un commentaire